PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN ( STANDAR PROSES PENDIDIKAN lanjutan 3 )


A. Persyaratan Pelaksanaan Proses Pembelajaran
1. Jumlah maksimal peserta didik di kelas:
  • SD/MI : 28
  •  SMP/MTs : 32
  • SMA/MA : 32
  • SMK/MAK : 32
  • SDLB/SMPLB/SMALB: 10
2. Beban mengajar maksimal per pendidik tetap per minggu:
  • SD/MI : 27 jam pembelajaran @ 35 menit
  • SMP/MTs/SMPLB: 18 jam @40 menit
  •  SMA/MA/SMK/MAK: 18 jam @ 45 menit
3. Buku teks pelajaran dan sumber belajar
4. Rasio maksimal jumlah peserta didik setiap pendidik pada setiap satuan pendidikan  ditetapkan sbb:
  • SD/MI : 18:1
  • SMP/MTs : 15:1
  • SMA/MA : 15:1
  • SMK/MAK : 12:1
  • SLB :  5:1
5. Pengelolaan kelas
Pendidik mengatur tempat duduk sesuai karakteristik mata pelajaran dan peserta
didik, serta aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan
  • Volume dan intonansi suara pendidik dalam proses pembelajaran harus dapat ditangkap oleh seluruh peserta didik.
  • Tutur kata pendidik santun, dapat dimengerti peserta didik
  • Menyesuaikan materi pelajarn dengan kecepatan dan kemampuan peserta didik.
  • Menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, keselamatan, dan kepatuhan pada peraturan
  • Pendidik memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respons dan hasil belajar peserta didik selama proses pembelajaran
  • Pendidik menghargai peserta didik tanpa memandang latar belakang, agama,
  • suku, jenis kelamin, ras, status sosial ekonomi
  • Pendidik menghargai pendapat peserta didik
  • Pendidik memakai pakaian sopan, bersih, rapi
  • Menyampaikan silabus mata pelajaran pada tiap awal semester.
  • Memulai dan mengakhiri proses pembelajaran sesuai dengan waktu yang dijadwalkan





PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPP ( STANDAR PROSES PENDIDIKAN lanjutan 2 )


PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPP

1.   Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
2.   Mendorong partisipasi aktif peserta didik; berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, interaktif : mengembangkan kompetensi dari apa yang dipelajari
3.   Mengembangkan budaya membaca dan kemampuan menulis
4.   Memberikan umpan balik, penguatan, pengayaan, dan remedi : untuk mengatasi hambatan belajar peserta didik dan untuk memacu partisipasi peserta didik dalam kegaitan belajarnya
5.   Keterkaitan dan keterpaduan : RPP disusun ndengan memperhatikan keterkaitan antara SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.
6.   Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif.

STANDAR PROSES PENDIDIKAN

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH
Dasar :
-          PP No 19 tahun 2005 :  Standar Nasional Pendidikan Bab III pasal 19 s/d 24
-          Permen Nomor 41 Tahun 2007 : Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
-          Permen Nomor 1 Tahun 2008 : Standar Proses Pendidikan Khusus
-          Permen Nomor 3 Tahun 2008 : Standar Proses Pendidikan Kesetaraan Program Paket A, Paket B, dan Paket C

Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Dijabarkan dari silabus, merupakan skenario proses pembelajaran untuk mengarahkan peserta didik dalam upaya mencapai KD.

Komponen RPP :
1. Identitas mata pelajaran , satuan pendidikan, kelas, semester, rogram/program keahlian, mata pelajaran/tema, jumlah pertemuan/pertemuan ke ...
2. Tujuan pembelajaran sesuai KD
3. Indikator pencapaian kompetensi :
a. Dirumuskan dengan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur
b. Mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
4. Alokasi waktu yang diperlukan untuk pencapaian KD sesuai dengan beban belajar.
5. Rincian materi pembelajaran :
a. Berisi fakta, konsep, prinsip, dan prosedur relevan, dipilah, diklasifikasi, dan atau dikelompokkan sebagai bahan/isi dalam kegiatan pembelajaran
  b. Ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indicator  pencapaian kompetensi
6. Kemampuan awal dan karakteristik peserta didik.
a. Identifikasi kemampuan peserta didik : pengetahuan yang telah dikuasai, sikap dan keterampilan yang telah dimiliki berkaitan dengan materi yang akan dipelajari.
b. Identifikasi karakteristik peserta didik; usia, jenis kelamin, sosial ekonomi, tingkat intelektual dan emosional, latar belakang budaya dan tata nilai, gaya belajar, kelebihan atau keunggulan, kebutuhan khusus, riwayat kesehatan.
7. Kegiatan Pembelajaran
a. Pendahuluan : kegiatan awal, membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik agar siap terlibat aktif dalam proses pembelajaran
b. Inti : proses pembelajaran untuk mencapai KD. Dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif. Dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi
c. Penutup : mengakhiri aktivitas pembelajaran ; rangkuman/kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, perlakuan tindak lanjut.
8. Media, alat, dan sarana prasarana pembelajaran : digunakan dalam kegiatan belajar dan pembelajaran, meliputi elektronik dan nonelektronik sesuai dengan SK dan KD, serta Standar Sarana Prasarana.
9. Prosedur dan instrumen penilaian sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi
10. Buku teks pelajaran, referensi, dan sumber belajar lain yang relevan dengan SK dan KD.

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH


RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH

Prinsip Pengembangan Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
Adapun Prinsip Pengembangan Silabus :
1 Ilmiah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2 Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik.
3 Sistematis
Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4 Konsisten
Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5 Memadai
Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6 Aktual dan Kontekstual
Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7 Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8 Menyeluruh
Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan


Menurut PP no 19 tahun 2005,   Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Adapun Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.
1.      Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
2.      Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
3.      Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

INPASSING

Inpassing merupakan penetapan jabatan fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil. Inpassing bukan sebatas untuk memberikan tunjangan profesi bagi mereka, namun lebih jauh adalah untuk menetapkan kesetaraan jabatan, pangkat/golongan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku sekailgus demi tertib administrasi Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil.
Persyaratan Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil yang dapat ditetapkan Jabatan Fungsional dan Angka Kreditnya adalah:
1.      Guru tetap yang mengajar pada satuan pendidikan, TK/TKLB/RA/BA atau yang sederajat; SD/SDLB/MI atau yang sederajat; SMP/SMPLB/MTs atau yang sederajat; dan SMA/SMK/SMALB/MA/MAK atau yang sederajat, yang telah memiliki izin operasional dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Dinas Pendidikan Provinsi setempat. Guru dimaksud adalah guru yang diangkat oleh pemerintah, pemerintah daerah dan yayasan/masyarakat penyelenggara pendidikan;
2.      Kualifikasi akademik minimal S-1/D-IV;
3.      Masa kerja sebagai guru sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun berturut-turut pada satmingkal yang sama;
4.      Usia setinggi-tingginya 59 tahun pada saat diusulkan;
5.      Telah memiliki NUPTK yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional; dan
6.      Melampirkan syarat-syarat administratif:
a.       Salinan/fotokopi sah surat keputusan tentang pengangkatan atau penugasan sebagai guru tetap yang ditandatangani oleh yayasan/penyelenggara satuan pendidikan yang mempunyai izin operasional tempat satuan administrasi pangkal (satmingkal) guru yang bersangkutan.
b.      Salinan atau fotokopi ijazah terakhir yang disahkan oleh pejabat yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku (Perguruan Tinggi/Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang menerbitkan ijasah dimaksud).
c.       Surat keterangan asli dari kepala sekolah/madrasah bahwa yang bersangkutan melakukan kegiatan proses pembelajaran/pembimbingan pada satmingkal guru yang bersangkutan.

Untuk keterangan lebih lanjut, termasuk memperoleh prosedur pengusulan Inpassing silakan klik di sini.

MINAL AIDIN WAL FAIZIN

oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab
dari buku Lentera Hati
Minal ‘aidin wal faizin,” demikian harapan dan doa yang kita ucapkan kepada sanak keluarga dan handai tolan pada Idul Fitri. Apakah yang dimaksud dengan ucapan ini? Sayang, kita tidak dapat merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kata ‘aidin, karena bentuk kata tersebut tidak bisa kita temukan di sana. Namun dari segi bahasa, minal ‘aidin berarti “(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali.” Kembali di sini adalah kembali kepada fitrah, yakni “asal kejadian”, atau “kesucian”, atau “agama yang benar”.

Setelah mengasah dan mengasuh jiwa – yaitu berpuasa – selama satu bulan, diharapkan setiap Muslim dapat kembali ke asal kejadiannya dn menemukan “jati dirinya”, yaitu kembali suci sebagai mana ketika ia baru dilahirkan serta kembali mengamalkan ajaran agama yang benar. Ini semua menuntut keserasian hubungan, karena – menurut Rasulullah – al-aidin al-mu’amalah, yakni keserasian dengan sesama manusia, lingkungan, dan alam.
Sementara itu, al-faizin diambil dari kata fawz yang berarti “keberuntungan”. Apakah “keberuntungan” yang kita harapkan itu? Di sini kita dapat merujuk pada Al-Quran, karena 29 kali kata tersebut, dalam berbagai bentuknya, terulang. Menarik juga untuk diketengahkan bahwa Al-Quran hanya sekali menggunakan bentuk afuzu (saya beruntung). Itupun menggambarkan ucapan orang-orang munafik yang memahami “keberuntungan” sebagai keberuntungan yang bersifat material (baca QS 4:73)
Bila kita telusuri Al-Quran yang berhubungan dengan konteks dan makna ayat-ayat yang menggunakan kata fawz, ditemukan bahwa seluruhnya (kecuali QS 4:73) mengandung makna “pengampunan dan keridhaan Tuhan serta kebahagiaan surgawi.” Kalau demikian halnya, wal faizin harus dipahami dalam arti harapan dan doa, yaitu semoga kita termasuk orang-orang yang memperoleh ampunan dan ridha Allah SWT sehingga kita semua mendapatkan kenikmatan surga-Nya.
Salah satu syarat untuk memperoleh anugerah tersebut ditegaskan oleh Al-Quran dalam surah An-Nur ayat 22, yang menurut sejarah turunnya berkaitan dengan kasus Abubakar r.a. dengan salah seorang yang ikut ambil bagian dalam menyebarkan gosip terhadap putrinya sekaligus istri Nabi, Aisyah. Begitu marahnya Abubakar sehingga ia bersumpah untuk tidak memaafkan dan tidak memberi bantuan apapun kepadanya.
Tuhan memberi petunjuk dalam ayat tersebut: Hendaklah mereka meaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 24:22).
Marilah kita saling berlapang dada, mengulurkan tangan dan saling mengucapkan minal ‘aidin wal faizin. semoga kita dapat kembali mendapatkan jati diri kita semoga kita bersama memperoleh ampunan, ridha, dan kenikmatan surgawi. Amin.[]

Keutamaan Lailatul Qadar


Terjemah Surat Al Qadar 1-5
1.  Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan
2.  Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
3.  Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4.  Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5.  Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

 Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, Karena pada malam itu permulaan Turunnya Al Quran.

Keutamaan Lailatul Qadar
Pertama, lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan ( bertambahnya kebaikan ). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1). Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya (yang artinya), “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5). Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga. Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar.

Kedua, lailatul qadar lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” Mujahid dan Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasalailatul qadar. di 1000 bulan yang tidak terdapat

Ketiga, menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari )

Bagaimana seharusnya kita “ membaca” Al Qur’an ?

Manna’ Khalil Al-Qattan dalam Kitabnya “ Mabahits fi Uluumil Qur’an “ menjelaskan definisi Al Qur’an adalah Kalamullah / Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan membacanya merupakan ibadah.. Dari definisi tersebut dapat difahami , siapa yang mau membaca Al Qur’an akan mendapat pahala dari Allah,bahkan akan dilipat gandakan pahalanya sebagaimana sabda Rosulullah SAW :
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م , مَنْ قَرَأَحَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةً , وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ اَمْثَالِهَا , لاَ اَقُوْلُ : الم حَر فً وَلَكِنْ اَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ ( رواه التّرمذى )  
“ Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata Rasulullah saw. Bersabda : “ Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah ( Al Qur’an ) maka akan memperoleh satu kebaikan. Setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan : Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi Alim satu huruf, Lam satu huruf dan Miim satu huruf “. ( HR Tirmidzi ) .
Namun perlu adanya perenungan dan pengkajian yang mendalam mengenai hal kata “ Membaca “ disini. Apakah hanya dengan mengucapkan dengan tanpa tahu arti dan tanpa memahami isinya dapat dikatakan membaca ? .
Dalam kamus besar bahasa Indonesia ( Departemen Pendidikan Nasional , Balai Pustaka ), Membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis baik dengan melisankan atau hanya dengan dalam hati. Dalam Wikipedia Ensiklopedia, Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Jadi menurut pengertian tersebut, ada beberapa unsure yang harus dipenuhi dalam membaca, antara lain : merangkai huruf atau kata baik secara lesan maupun dalam hati, menangkap informasi yang terkandung dan merespon informasi tersebut. Lalu apakah kita juga telah membaca Al Qur’an dengan menangkap dan memahami isi kandungannya ?, ataukah hanya melafalkan saja tanpa menangkap informasi yang terkandung ?
Jika kita mau jujur mayoritas kita membaca hanya sekedar melafalkan saja tanpa tahu arti dan tanpa menangkap infomasi kandungan dari ayat – ayat yang kita baca. Padahal Al Qur’an diturunkan berfungsi sebagai , Hudan , petunjuk bagi umat , sebagaimana dijelaskan dalam ayat
Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. ( QS. Al Baqarah : 2 ).
Bagaimana kita dapat menjadikan AL Qur’an sebagai petunjuk, sebagai sumber hukum, sementara kita hanya melafalkannya saja tanpa mengerti artinya dan tanpa mengkaji dan memahami kandungannya.
Ayat Al Qur’an yang pertama kali turun adalah Surat Al Alaq atyat 1 – 5
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Menurut Sirah Nabawi , Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang ” Ummi ” , tidak dapat baca tulis ” , namun mengapa Allah menurunkan ayat pertama turun dengan kata ” Iqro ” ( bacalah ) . Allah adalah Maha atas segala , membuat nabi seorang yang Ummi ini memang telah dipersiapkan oleh Allah untuk menjawab orang – orang kafir yang mengatakan bahwa Al qur’an diambil oleh nabi dari cerita orang – orang terdahulu. Bagaimana cara Nabi Muhammad mengambilnya ? , padahal beliau seorang yang tak bisa baca dan tulis.
Adapun hikmah kata ” Iqro ” menjadi kata pertama Al qur’an yang diturunkan kepada Nabi , Menurut Dr. M Quriash Shihab , lafal Iqro ( Bacalah ) terambil dari akar kata yang berarti ” menghimpun ” , dari kata menghimpun lahir aneka ragam makna, seperti menyampaikan , menelaah , mendalami , meneliti , mengetahui ciri sesuatu dan membaca , baik teks tertulis maupun tidak.
Disamping ayat –ayat Qouliyah ( Al Qur’an ) juga ada ayat Kauniyah ( alam semesta ) , keduanya harus kita baca , kita telaah dan kita teliti sebagai petunjuk hidup kita . Iqra berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri sesuatu, bacalah alam , bacalah tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri, yang tertulis dan yang tidak tertulis. Membaca adalah sesuatu yang sangat mendasar karena dengan membacalah orang dapat mengetahui segala macam ilmu pengetahuan. Dan dengan membaca pula orang dapat merubah budaya dan peradaban.
Al Qur’an diturunkan dengan berbahasa Arab. Kendala perbedaan bahasa inilah yang membuat kebanyakan kita tak mampu untuk membaca Al Qur’an sambil menangkap informasi hukum yang terkandung secara langsung. Kita hanya berhenti dengan memperindah bacaan, tidak melanjutkan tahab berikutnya , memahami dan mendalami isi kandungannya. Allah yang memiliki kita, Allah tahu kadar kemampuan kita, kalau Allah memerintah kita untuk membaca , mamahami dan mengamalkan Al Qur’an pasti Allah memberi kemampuan pada kita untuk tugas tersebut . Apalagi Allah akan memudahkan kepada umat Islam yang mau bersungguh-sungguh mempelajari Al Qur’an.
" Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"
Pertanyaan Allah dalam ayat tersebut : ”Adakah orang yang mau mengambil pelajaran ?” bukan ”Adakah orang yang mampu mengambil pelajaran ?. Hal itu dikarenakan kita semua mampu untuk mengambil pelajaran, namun apakah kita mau melakukannya ?

Sujud Membuat Otak Lebih Cerdas

Microsoft Word - Mengelola_TBO.doc
Seorang doktor neurologi USA masuk Islam, karena kagum dengan penemuannya: “Shalat dapat membuat otak jadi sehat”
Hasil penelitian:
Ditemukan beberapa urat saraf otak manusia yang tidak dimasuki darah. Padahal, tiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup agar otak dapat berfungsi lebih normal.Darah tidak akan memasuki urat saraf tersebut melainkan ketika seseorang melakukan shalat, saat sujud.
Jadi, barang siapa yang tidak menunaikan shalat maka otak tidak dapat menerima darah yang cukup untuk berfungsi lebih normal. Oleh karena itu terciptanya manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam, karena sifat fitrah kejadiannya memang lah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini. Subhanallah…

* * * * *
Solusi menuju shalat sempurna (shalat Nabi, shalat jamaah & shalat khusyu)

Tujuan PTK ( Contoh PTK Al Qur'an Hadits )

Melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) diharapkan  masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran dapat dikaji, ditingkatkan dan dituntaskan, sehingga proses pendidikan dan pembelajaran yang inovatif dan hasil belajar yang lebih baik, dapat diwujudkan secara sistematis. Upaya PTK diharapkan dapat menciptakan sebuah budaya belajar (learning culture) di kalangan dosen di LPTK, dan guru-siswa di sekolah. PTK menawarkan peluang sebagai strategi pengembangan kinerja, sebab pendekatan penelitian ini menempatkan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya sebagai peneliti, sebagai agen perubahan yang pola kerjanya bersifat kolaboratif.

Tujuan PTK
  1. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah (SD,  SMP, SMA dan SMK).
  2. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.
  3. Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
  4. Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah dan LPTK, sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan (sustainable).
  5. Meningkatkan keterampilan pendidik dan tenaga kependidikan khususnya di sekolah dalam melakukan PTK.
  6. Meningkatkan kerjasama profesional di antara pendidik dan tenagam kependidikan di sekolah dan LPTK. 
Semoga bermanfaat
CONTOH PTK ALQUR'AN HADITS

Kami ucapkan terimakasih jika anda berkenan memberi komentar pada postingan ini dan membagikan pada teman anda melalui facebook

Sepenggal Kisah Nabi Ibrahim

Sepenggal kisah Nabi Ibrahim
Suatu hari Nabi Ibrahim menjenguk  putra tercintanya Nabi Ismail di rumahnya karena setelah nabi Ismail berkeluarga dan membangun rumah sendiri Nabi Ibrahim belum pernah ketemu dengan putranya tersebut,
“Assalamualaikum…,”  sapa Nabi Ibrahim saat tiba di depan pintu rumah putranya ,
  “ Waalaikum Salam …” jawaban terdengan dari dalam rumah , dan sesaat kemudian keluarlah istri nabi Ismail .,  “  Bapak …, silahkan masuk ,
Nabi Ibrahim :  “ apa suamimu ada dirumah ? ,
Istri Nabi Ismail : “ ketepatan putra Bapak baru berangkat ke hutan untuk cari kayu bakar …”
Nabi Ibrahim : “ Biasanya jam berapa pulangnya ? “ .
Istri Nabi Ismail : “ biasanya menjelang waktu Asyar”.
Kemudian tanpa ditanya istri nabi Ismail menceritakan kehidupannya bersama suaminya yang serba kekurangan dan menjelek-jelekan nabi Ismail sebagai suami dikatakannya kurang tanggungjawab karena tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.
Nabi Ibrahim hanya mendengarkan keluhan  menantunya dengan diam dan tanpa komentar. beberapa waktu kemudian nabi Ibrahim pamit pulang : “ Aku tak pulang dulu sampaikan salam dan pesanku  pada suamimu ,. “ pesan apa Pak “. Sahut istri nabi Ismail
“     Nabi Ibrahim :’ sampaikan pada suamimu , aku perintahkan untuk menganti bantalan pintu depan rumahnya itu dengan bantalan yang baru”.  “ bukannya bantalan pintu itu masih bagus “ sahut istri Nabi Ismail , “ ya pokoknya sampaikan saja pesan saya itu pada suamimu  dan sekarang aku pamit pulang, assalamu alaikum” tambah Nabi Ibrahim sambil beranjak meninggalkan rumah putranya.
Saat Nabi Ismail Tiba dirumah , sang istri bercerita tentang kedatangan Nabi Ibrahim dan menyampaikan pesannya ke suaminya.
Lantas nabi Ismail berkata “ saat ini juga kamu saya Talak tiga “ .
“Loo ada apa apa salahku “  : jawab sang istri
“ Aku gak tahu apa yang telah kau ceritakan kepada bapak sehingga bapak memerintahkanku untuk melakukan perceraian ini, yang dimaksud bapak dengan Bantalan Pintu itu adalah kamu.
Akhirnya nabi Ismail dan istrinya bercerai dan beberapa bulan kemudian nabi Ismail telah bertemu jodoh dan menikah lagi.,
Pada suatu pagi datanglah Nabi Ibrahim kerumah putranya dan seperti tahun lalu yang dia temui hanyalah istri dari putranya saja karena putranya baru ke hutan mencari kayu bakar. Istri Nabi Ismail menyambut mertuanya dengan baik dan menyilahkan untuk duduk dan menunggu di ruang tamu. Nabi Ibrahim bertanya “ bagaimana kehidupan keseharianmu kau lalui bersama suamimu ? . Alhamdulillah Pak…, kami saya dan putra bapak dalam keadaan baik …, “  demikian jawaban istri nbi Ismail sambil terus menceritakan kebaikam-kebaikan suaminya , dan tak ada kata mencacat kepada suaminya.  Setelah beberapa waktu nabi Ibrahim pamit “ sekarang aku mau pulang sampaikan salamku pada suamimu dan tolong sampaikan pesanku padanya , pesanku : aku perintahkan suamimu untuk mempertahankan bantalan pintu rumahnya “
Setelah nabi ismail sampai dirumah , istrinya bercerita tentang kedatangan Nabi Ibrahim dan menyampikan pesannya kepada suaminya. “ Alhamdulillah ,  aku tak tahu apa yang telah kau obrolkan dengan bapak , bapak berpesan agar aku mempertahankanmu sebagai teman hidupku, yang dimaksud bapak bantalan pintu itu adalah kamu sebagai istri saya”.

Demikian kisah pendek  tentang Kinjungan Nabi Ibrahim ke rumah putranya
Dapat kita ambil hikmah , meskinya dalam sebuah keluarga  suami dan istri hendaknya bisa merahasiakan aib dari keluarganya sendiri terhadap orang lain. Dengan menceritakan aib keluarga berarti menceritakan aib sendiri , dan bukti kurang sabar seseorang  dalam keluarga adalah menceritakan aib dan kekurangan-kekurangan yang ia alami.

Semoga menjadi iktibar buat kita semua untuk bisa mewujudkan RUMAHKU adalah SURGAKU

Hasrat Taubat

Hasrat Taubat
Nyanyian sunyi ku dendangkan lewat bibir hatiku
Untuk menebus segala dosa
Robbana dholamna anfusana….
Ujub, riya’, sombong, hubud dunya dan rayuan nafsu
Lumur dalam diriku
Alloh ……Robbii , Ampunilah dosaku
Murnikan imanku kepada-Mu
Innash sholaati wanusyuku wa mahyaaya wa mamaati lillahirobbil ‘aalamiin  
Nista perbuatanku yang lalu
Akan ku ubah jadi madu
Hasrat ini bisa terwujud bila Ridho-Mu menyertaiku , ya Alloh…………….

Dalam Doaku

dalam doaku
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman
Tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima
cahaya pertama, yang melengking hening karena
akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau
senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
kepada angin yang mendesau entah darimana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang
mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap
Di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
Yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun
Sangat pelahan dari nun di sana, bersejingkat di jalan kecil itu,
menyusup di celah-celah jendela dan pintu,
Dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut,
dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
Yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku
Aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai
Mendoakan keselamatanmu
karya : Sapardi Djoko Damono

Kesabaran sebagaimana digambarkan dalam Hadits

Kesabaran sebagaimana digambarkan Hadits
Sebagaimana dalam al-Qur'an,dalam hadits juga banyak sekali sabda-sabda Rasulullah SAW yang menggambarkan mengenai kesabaran. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar, hadits-hadits tersebut menggambarkan kesabaran sebagai berikut;
1. Kesabaran merupakan "dhiya' " (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah SAW mengungkapkan, "… dan kesabaran merupakan
cahaya yang terang…" (HR.Muslim)
2. Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimal. Rasulullah SAW pernah menggambarkan: "… barang siapa yang mensabar- sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar …" (HR. Bukhari)
3. Kesabaran merupakan anugrah Allah yang paling baik. Rasulullah SAW mengatakan, "… dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran." (Muttafaqun Alaih)
4. Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mu'min, sebagaimana hadits yang terdapat pada muqadimah; "Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik.
Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya." (HR. Muslim)
5. Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga. Dalam sebuah hadits digambarkan; Dari Anas bin
Malik ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah berfirman, "Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian diabersabar, maka aku gantikan surga baginya." (HR. Bukhari)
6. Sabar merupakan sifat para nabi. Ibnu Mas'ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Dari Abdullan bin Mas'ud berkata"Seakan-akan aku memandang Rasulullah SAW menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudia ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, 'Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (HR. Bukhari)
7. Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah SAW pernah menggambarkan dalam sebuah hadits; Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah." (HR. Bukhari)
8. Kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah SAW menggambarkan dalam sebuah haditsnya; Dari  Abu Hurairah ra bahwa Rasulullan SAW bersabda, "Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut." (HR. Bukhari & Muslim)
9. Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang tidak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik baginya; apakah kehidupan atau kematian. Rasulullah SAW mengatakan; Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah salah seorang diantara kalian mengangan-angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, 'Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik unttukku. Dan wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku." (HR. Bukhari Muslim) 

Contoh Dokumen 1 KTSP

Contoh Dokumen 1 KTSP Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 mewajibkan setiap madrasah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sesuai kebutuhannya dengan memperhatikan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dasar dan menengah yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Sesusai dengan peraturan tersebut, semua satuan pendidikan, termasuk madrasah, diharapkan sudah menyusun dan melaksanaan KTSP secara utuh paling lambat pada tahun 2009/2010.

Bagi rekan - rekan yang belum punya dokumen 1 ktsp , dan perlu pedoman pembuatannya silahkan download :
Contoh Dokumen 1 KTSP

KTSP : Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran  serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Kurikulum semakin hari semakin di perbarui dan disempurnakan , Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh  perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan budaya. Perkembangan dan perubahan secara terus menerus inilah yang  menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tersebut. Sehingga kita melihat perubahan kurikulum yang sangat cepat dari kurikulum 1994  ke kurikulum 2004 yang terkenal dengan KBK ( Kurikulum Berbasis Kompetensi ) dan dilanjutkan dengan kurikulm 2006 yang sering disebut dengan KTSP ( Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan )
Penyempurnaan kurikulum tersebut mengacu pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu berkenaan dengan pasal-pasal sebagai berikut:
1) Pasal 3, yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab;
2) Pasal 35 Ayat (1), yang menyatakan bahwa standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala;
3) Pasal 36 ayat (1) dan (2), yang menyatakan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan dan dilakukan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik; dan
4) Pasal 37 Ayat (1), yang menyatakan bahwa pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olah raga, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal;

Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala;
Standar – standar tersebut dapat kita lihat pada Permen-permen  berikut
Tahun 2006
ž     Standar Isi (Permen 22/2006)
ž     Standar Kompetensi Lulusan  (Permen 23/2006)

Tahun 2007
ž     Standar Pengawas (Permen 12/2007)
ž     Standar Kepala Sekolah (Permen 13/2007)
ž     Standar Isi Pendidikan Kesetaraan (Permen 14/2007)
ž     Standar Guru (Permen 16/2007)
ž     Standar Pengelolaan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (Permen 19/2007)
ž     Standar Penilaian Pendidikan (Permen 20/2007)
ž     Standar Sarana dan Prasarana SD,SMP,SMA (Permen 24/2007)


KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN BERBASIS CTL


Pada Posting sebelumnya saya tuliskan tentang  komponen CTL , sekarang pada postingan kali ini  kami ingin ingatkan pada kawan-kawan guru mengenai Karakteristik Pembelajaran Berbasis Ctl
Mengapa saya hanya mengingatkan …? karena saya yakin bahwa kawan-kawan guru telah mahir dan biasa  dengan metode pembelajaran CTL ini .

 KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN BERBASIS CTL
         Kerjasama
         Saling menunjang
         Menyenangkan
         Tidak membosankan
         Belajar dengan bergairah
         Pembelajaran terintegrasi
         Menggunakan berbagai sumber
         Siswa aktif
         Sharing dengan teman
         Siswa kritis, guru kreatif
         Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dll
         Laporan kepada orang tua bukan hanya raport, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dll.

TUJUH KOMPONEN CTL

CTL ( CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING ) adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk membantu siswa memahami makna yang ada pada bahan ajar yang mereka pelajari dengan menghubungkan pelajaran dalam kontek kehidupan sehari-harinya dengan kontek kehidupan pribadi, sosial dan cultural

TUJUH KOMPONEN CTL

  1. Konstruktivisme
  2. Inquiry
  3. Questioning
  4. Learning Community
  5. Modeling
  6. Reflection
  7. Authentic Assessment

KONSTRUKTIVISME
         Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal
         Pembelajaran harus dikemas menjadi prosesmengkonstruksibukan menerima pengetahuan
INQUIRY (MENEMUKAN)
         Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
         Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
QUESTIONING (BERTANYA)
         Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa
         Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry
. LEARNING COMMUNITY  
    (MASYARAKAT BELAJAR)
         Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar
         Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri
         Tukar pengalaman
Berbagi ide
MODELING (PEMODELAN)
         Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar
         Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
REFLECTION (REFLEKSI)
         Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari
         Mencatat apa yang telah dipelajari
         Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
. AUTHENTIC ASSESSMENT
    (PENILAIAN YANG SEBENARNYA)
         Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa
         Penilaian produk (kinerja)
         Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual