اللّهُمَّ اِنِّى اَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفاَتِحَه وَبِجَاهِ الْفَاتِحَه وَبِكَرَامَةِ الْفاتِحَه وَبِحُصُوْصِيَةِ الْفاتِحَه وَبِسِرِّ الْفَاتِحَه وَبِشَفَاعَةِ الْفَاتِحَه وَبِبَرَكَاتِ الْفَاتِحَه وَبِحُرُوفِ الْفَاتِحَه وَبِكَلِمَةِ الْفَاتِحَه وَبِاَيَاتِ الْفَاتِحَه وَبِرُكُوْعِ الْفَاتِحَه وَبِحَقِّ مَااُنْزِلَتْ عَلَيْهِ سُوْرَةُ الْفَاتِحَه يَا فَارِجَ الْهَمِّ وَيَاكَاشِفَ الْغَمِّ وَيَامَنْ لِعَبْدِهِ يَغَفِرْ وَيَرْحَمْ يَا دَافِعَ الْبَلاَء يَا دَافِعَ الْبَلاَء يَا دَافِعَ الْبَلاَء اِدْفَعْ عَنَّا كُلَّ هَمِّ وَغَمِّ رَبِّ يَسِّرْلَنَا وَلاَ تُعَسِرْ عَلَيْنَا 3× فِى الدّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالأَخِرَة اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْر وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَمَ
Tampilkan postingan dengan label Fiqih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqih. Tampilkan semua postingan
Hakim dan Mahkum Fih
A. HAKIM
Hakim : yaitu orang yang menjatuhkan putusan
Di antara ulama kaum muslimin tidak ada perbedaan pendapat bahwa sumber hukum syara’ bagi perbuatan mukalaf adalah Alloh Swt, baik hukum mengenai perbuatan mukalaf itu telah di jelaskan secara langsung dalam nash yang di wahyukan kepada Rasul-Nya maupun yang di gambarkan kepada para mujtahid untuk mengeluarkan hukum dari tanda-tanda yang di tetapkannya.Oleh karena itu mereka sepakat dalam memberikan pengartian tentang hukum syara’ adalah : Ketetapan Alloh yang berhubungan dengan perbuatan mukalaf dalam bentuk tuntutan, pilihan atau ketetapan.
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa al hakim adalah Alloh, tetapi perbedaan pendapat itu pada cara mengetahui hukum-hukum Alloh.
Dalam hal ini para ulama’ terbagi menjadi tiga mazhab :
1.Mazhab al Asy’ariy yaitu pengikut Abu Hasan al Asy’ariy :Akal tidak munkin mengetahui hukum-hukum Alloh atas perbuatan mukalaf kecuali dengan perantaraan para rasul dan kitab-kitab Alloh.
2.Mazhab al Mu’tazilah pengikut Washil bin ‘Athaa’.menurut mazhab ini, hokum-hukum Alloh itu mungkin diketahui secara langsung tanpa perantaraan para rasul dan kitab-kitab Alloh.
3.Mazhab Maturidiyah pengikut Abu Manshur al Maturidi. Pendapat ini bersifat moderat dan netral bahwa perbuatan orang-orang mukalaf itu memiliki ciri-ciri tertentu dan memiliki pengaruh pada baik atau buruknya perbuatan itu.
B. MAHKUM FIH
Mahkum fih : yaitu perbuatan mukalaf yang berkaitan dengan hukum.
Firman Alloh SWT :
ياا يها اللذين امنوا اوفوا بالعقود.{الما ئدة :1}
”Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad itu.”(Qs.al-Maidah : 1)
Kewajiban yang di ambil dari kitab ini adalah berhubungan dengan perbuatan mukalaf, yaitu memenuhi janji yang kemuian dijadikan hokum wajib.
Firman Alloh Swt :
يا ايها الذين اًمنوا اٍذا تداينتم بدين اٍلي اًجل مسمي فاكتبوه {البقرة :282 }
”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang di tentukan, hendaklah kamu menuliskannya.”(Qs.al-Baqarah:282)
Kesunahan yang di ambil dari kitab ini adalah berhubungan dengan perbuatan mukalaf, yaitu mencatat hutang piutang yang kemudian dijadikan hokum sunnah.
Firman Alloh Swt :
ولا تقتلوا النفس.{الانعام:151}
”Dan janganlah kamu membunuh jiwa.”(Qs.al-An’aam:151)
Keharaman yang di ambil dari kitab ini adalah berhubungan denfgan perbuatan mukalaf, yaitu membunuh jiwa yang kemudian dijadikan hokum haram.
Firman Alloh Swt :
ولا تيمموا الخبييث منه تنفقون {البقرة:267}
”Dan janganlah kamu mengambil yang buuk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya.”(Qs.al Baqarah:267)
Kemakruhan yang di ambil dari kitab ini adalah berhubungan dengan perbuatan mukalaf,yaitu menafkahkan harta yang jelek atau rusak yang kemudian dijadikan hokum makruh.
Firman Alloh Swt :
فمن كان منكم مريضا اًو علي سفر فعدة من ايام اًخر {البقرة :184}
”Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka ), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”( Qs al Baqarah : 184)
Kitab ini berhubungan dengan sakit dan bepergian yang kemudian keduanya dijadikan hukum mubah (boleh) berbuka.jadi, setiap hukum syari’ harus berhubungan dengan dengan perbuatan mukalaf,baik secara tuntutan, pilihan atau ketetapan.
Dari sini dikatakan bahwa semua bentuk perintah dan larangan itu berhubungan dengan perbuatan mukalaf. Dalam perintah yang dituntut adalah melaksanakan yang di perintahkan, sedangkan dalam larangan yang dituntut adalah menahan diri melakukan yang dilarang.
Syarat sah tuntutan dengan perbuatan
Perbuatan yang sah menurut syara’ untuk diharuskan memiliki tiga syarat :
- Tuntutan perbuatan itu harus diketahui mukallaf secara jelas sehingga ia mampu melaksanakannya sebagaimana yang dituntutkan.
- Hendaknya diketahui bahwa tuntutan itu keluar dari orang yang punya kekuasaan menuntut dan dari orang yang hukumnya wajib diikuti mukallaf.
- Perbuatan yang di bebankan kepada mukallaf harus berupa sesuatu yang mungkin,atau mampu dilakukan atau dihindari oleh mukallaf.
Doa sesudah belajar
اَللَّهُمَّ اِنِّى اَسْتَوْدِ عُكَ مَا عَلَّمْتَنِيْهِ فَارْدُدْهُ اِلَىَّ عِنْدَ حَاجَتِى اِلَيْهِ وَلاَ تَنْسَنِيْهِ يَا رَبَّالْعَالَمِيْنَ.
Aloohumma inni astaudi’uka maa’allamtaniihi fardudhu ilayya ‘inda haajatii ilaihi wa laa tangsaniihi yaa robbal ‘aalamiin.
Doa akan Belajar
اللَّهُمَّ اَخْرِجْنَا مِنْ ظُلُمَاتِ الْوَهْمِ وَاَكْرِمْنَا بِنُوْرِالْفَهْمِ وَافْتَحْ عَلَيْنَا بِمَعْرِفَةِ الْعِلْمِ وَسَهِّلْ لَنَا اَبْوَابَ فَضْلِكَ يَا اَرْحَمَ الّرَاحِمِيْنَ
Alloohumma akhrijnaa min dhulumaatil wahmi wa akrimnaa binuuril fahmi waftah ‘alainaa bima’rifatil ilmi wa sahhil lanaa abwaaba fadhlika yaa arhamar roohimiin.
Doa sapu jagat ( kebaikan dunia akhirat )
رَبَّنَااَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ .
Robbanaa aatinaa fiddunya hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.
Doa Selamat
اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنَ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَ بَرَكَةً فِي الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَ رَحْمَةً عِندَالْمَوْتِ وَ مَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ .
Bacaan Dzikir Setelah Sholat
أَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِى لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِِ 3×
لاَ اِلهَ اِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. 3×
أَللّهُمَّ أَجِرْنِيْ مِنَ النَّارِ 3 X
أَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُالسَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَالْجَلاَلِ وَالاِكْرَامِ. أَللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَمُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.
اِلهِ يَا رَبِّيْ اَنْتَ مَوْلنَا
سُبْحَنَ اللّه. (×33). أَلْحَمْدُ لِلّهِ. (×33). أَللّهُ أَكْبَرُ (×33).
أَللّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَنَ اللّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَه‘ لاَشَرِيْكَ لَه‘، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شُيْئٍ قَدِيْرٌ.
لآاِلهَ اِلاَّ اللّه (33×)
Setelah itu membaca doa
Qurban
PENDAHULUAN
Qurban adalah salah satu amalan ibadah sunnah yang disyariatkan bagi umat Islam setiap datangnya hari raya Idul Adha. Istilah qurban dikenal sejak Nabi Adam , yaitu peristiwa qurban yang dilakukan oleh 2 putra nabi Adam yang bernama Qobil dan Habil demi untuk merebutkan seorang istri. Barang siapa yang qurbannya diterima maka dialah yang berhak untuk mengawininya.
Adapun Qurban yang disyariatkan kepada nabi Muhammad adalah mengikuti jejak nabi Ibrahim. Suatu hari Nabi Ibrahim mendapat wahyu melalui mimpi. Beliau diperintah Allah SWT untuk menyembelih putranya yang bernama Ismail. Ketika Nabi Ibrahim hendak menyembelih putra kesayangannya tiba-tiba malaikat Jibril datang menggantikannya dengan seekor domba. Itulah awal disyariatkan qurban.
Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah
Ibadah Qurban pada hakekatnya yang sampai pada Allah SWT adalah nilai dari ketaqwaan orang yang berkurban bukan daging-daging dari binatang kurbannya. Sebagaimana firman Allah yang
artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. ( QS Al Hajj 37 )
باب الا ضاحي
BAB
QURBAN
A. Pengertian
Kata ”al Adla-hi” jamak dari kata ”Udlhiyatun” dengan dhommah hamzah. boleh kasrh hamzah dan boleh pula di buang hamzah itu dengan fathah dla’ sehingga menjadi ”dlahiyyah”seakan-akan kata itu diambil dari nama waktu di syariatkan penyembelihan.oleh karena itu dinamailah hari Adlha.
Qurban adalah binatang yang di sembelih atas nama Alloh guna ibadah kepada Alloh pada hari raya idul adha dan tiga hari setelahnya yaitu tanggal 11 sampai 13 Dzulhijjah. ( Hari Tasyrik )
B. Cara Penyembelihan Qurban
وله من حديث عا ئشة رضي الله عنها امر بكبش اقرن يطاء فى سواد وينظر فى سواد فاتي به ليضحي به فقال لها يا عائشة هلمي المدية ثم قال اشحديها بحجر ففعلت ثم اخذها واخذه فاضجعه ثم ذبحه ثم قال بسم الله اللهم تقبل من محمد وال محمد من امة محمد ثم ضحى به
Artinya : Menurutnya (riwayat muslim) dari Aisyah r.a beliau (Rosululloh SAW) memerintahkan bahwa kibas yang bertanduk , yang bagian kakinya hitam , lalu di bawakan kibas itu kepadanya untuk brliau qurban.lalu beliau bersabda kepadanya : ” Ya Aisyah, bawalah pisau “, kemudian beliau bersabda lagi : “asahlah pisau itu dengan batu “, setelah dia kerjakan (mengasahnya) , kemudian beliau mengambil pisau dan kibas itu , lalu membaringkannya kemudian beliu menyembelihnya sambil mengucapkan : ”Dengan nama Alloh , ya Alloh terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad.” kemudian beliau menyembelih qurbannya..
Dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa sunah pembaringan kambing (hewan sebelum di sembelih) , tidak boleh disembelih dalam keadaan berdiri atau tidur, karena dengan membaringkannya lebih bersifat penyantun terhadap hewan dan cara tersebut telah di sepakati oleh para ulama’.
Dalam hadits itu pula disunahkan berdoa agar qurban dan amal-amal lainnya di terima oleh Alloh.Nabi ibrahim khalilulloh dan putranya ismail yang mau disembelih pernah berdoa dan di abadikan dalam Al-Quran surah Al baqarah ayat 127
Artinya : Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".
Pada waktu penyembelihan qurban Rosululloh SAW menghadapkan hewan itu kearah qiblat beliau membaca surah Al-An’am ayat 79 :
Artinya : Sesungguhnya saya menghadapkan wajahku kepada Alloh yang menciptakan langit dan bumi dalam keadaan cenderung kepada agama yang benar dan saya bukan termasuk orang-orang musyrik.
C. Hukum Qurban
Ulama’ berbeda pendapat tentang hukum qurban, sebagian ulama’ mengatakan wajib dan sebagian lain mengatakan sunnah.
1. Ulama’ yang berpendapat hukum qurban adalah wajib. Alasanya adalah :
عن ابي هر يرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلي الله عليه وسلم من كان له سعة ولم يضحي فلا يقربن مصلان ـ روه احمد وابن ماجه وصححه الحاكم ورجع الائمه غيره وقفه
Artinya : Dari Abu Hurairah ra. Beliau berkata : Rosulullah SAW bersabda “ Barang siapa yang ada kemampuan, tetapi dia tidak berqurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat sholat kami.
Hadits tersebut menunjukkan kewajiban berqurban atas orang yang memiliki kemampuan, karena sesungguhnya tatkala Rosulullah melarang mendekati tempat shalat itu menunjukkan bahwa dengan meninggalkan qurban berarti dia telah meninggalkan kewajibannya. Sebagaimana firman Alloh dalam surat Al Kautsar 2
Artinya : Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah
2. Ulama’ yang berpendapat Hukum Qurban adalah Sunnah
Alasannya berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi juga dari Ibnu Abbas bahwa Rasululloh bersabda :
ثَلاَ ثُ هُنَ عَلَيَّ فَرْضٌ وَلَكُمْ تَطَوُّعُ وَعَدَّ مِنْهَا الضَّحِيَّةَ
Artinya : ada 3 tugas yang wajib atas saya dan agi kamu sekalian hanya sunat saja dan beliau menyebut diantaranya yaitu Qurban.
Menurut para sahabat , para tabi’in dan fuqoha’ (imam syafi’i) bahwa qurban itu sunnah muakkad . sebagaimana hadits dari Ummu salamah yang diriwayatkan muslim bahwasannya rosululloh telah bersabda :
اذا دخلت العشر فاراد احدكم ان يضحي فلا يئاخد من شعره ولا بشره شيئا ـ رواه مسلم
Artinya : Apabila sudah masuk hari ke 10 bulan dzulhijjah , lalu seseorang diantara kamu ingin berqurban, maka jangan hendaknya dia mengambil bulunya dan kulitnya sedikitpun. ( HR Muslim )
Qurban yang dilakukan karena nadhar hukumya wajib maksudnya jika ada seseorang yang akan melakukan kurban jika mendapat sesuai atau terhindar sesuatu , dan ternyata orang tersebut benar-benar mendapat sesuatu atau terhindar dari sesuatu tersebut maka wajib baginya untuk memenuhi nadharnya yaitu berkurban. Dan orang tersebuit tidak boleh memakan dari daging kurbannya sedikitpun hal ini berbeda dengan kurban biasa ( bukan karena nadhar ) bagi yang berkurban boleh makan daging hewan kurbannya asal tidak melebihi 1/3 nya.
D. Waktu penyembelihan qurban
Waktu penyembelihan qurban adalah : setelah sholat idul adha ( tgl 10 Dzuljjah ) sampai sebelum terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzulhijah.
عن جندب بن سفيا ن قال : شهد ت الا ضحي م رسول الله صلي الله عليه وسلم فلما قضي صلا ته بالناس نظر الي غنم قد ذبحت فقال من ذبح قبل الصلا ة فليذبح شات مكانها ومن لم يكن ذبح فليذبح علي اسم الله ـ متفق عليه
Artinya : Dari jundun bin syufyan r.a beliau berkata : saya menyaksikan hari raya qurban bersama rosululloh S.A.W setelah beliau selesai dari sholatnya dengan orang banyak , beliau melihat seekor kambing yang sudah disembelih. Lalu beliau besabda : barang siapa yang menyembelih sebelum sholat , maka hendaklah dia menyembelih seekor kambing lagi sebagai gantinya, dan barang siapa belum menyembelihnya , maka hendaklah dia menyembelih dengan nama Alloh.
Dalam hadits tersebut terkandung dalil bahwa penyembelihan hewan qurban adalah sesudah sholat idul adha,tidak sah penyembelihan sebelumnya (sholat idul adha).Hal ini sebagaimana firman Alloh dalam surah Al-Hajj ayat 28
Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan, atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.
E. Hewan yang tidak syah dijadikan qurban
Syarat dari hewan qurban adalah
1. Hewan yang sehat dan tidak cacat.
2. Sudah cukup umur
Hewan yang cacat seperti mata juling ,pincang , sakit dan sangat tua yang tidak punya sum-sum lemak tidak sah untuk qurban sebagaimana hadits Nabi :
عن البراء بن عازب رضي الله عنه قال: قام فينا رسول الله صليالله عليه وسلم فقال اربع لا تجوز فيالضحايا : العوراء البين عورها والمريضة البين مرضها والعزجاءالبين ضلعها ـ والكبيرة التي لاتنقي ـ رواه احمد والاربعة
Artinya : Dari Barra’ bin Azib r.a beliau berkata : Rosuulloh S.A.W berdiri di tengah-tengah kami lalu bersabda : empat macam hewan yang tidak boleh dalam qurban yaitu : yang juling yang nyata julingnya, yang sakit yang nyata sakitnya, yang pincang yang nyata pincangnya dan yang tua bangka yang tidak mempunyai sum-sum atau lemak.
Hadits tersebut sebagai dalil bahwa empat cacat tersebut mencegah sahnya qurban dan dimaafkan cacat-cacat lain selain itu. Menurut pendapat ulama’ Zhohiri, bahwa tidak ada cacat lain selain empat cacat ini, menurut mayoritas ulama’ bahwa di kiaskan kepada empat cacat tersebut cacat – cacat lain yang terdapat lebih berat dari itu atau yang sama dengannya : missal, hewan yang buta dan patah kakinya , putus ekornya, putus telinganya, sangat kurus dll.
Hewan yang boleh untuk kurban adalah : kambing atau domba, sapi atau kerbau dan unta. Adapun ketentuannya adalah kambing atau domba hanya untuk berqurban satu orang, hal ini diqiyaskan dengan denda meninggalkan wajib haji . sedangkan sapi atau unta untuk berqurban tujuh orang.
عَنْ جَابِرٍ : نَحَرْنَا مَعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عليه عَمَ الحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ
Artinya Dari Jabir : “ Kami telah menyembelih qurban bersama-sama Rosululloh SAW. pada tahun Hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang. ( Riwayat Muslim )
Adapun yang dimaksud dengan cukup umur adalah :
- Domba ( da’ni ) yang telah berumur satu tahun lebih atau sudah berganti gigi ( poel )
- Kambing yang telah berumur dua tahun atau sudah berganti gigi ( poel )
- Unta yang telah berumur lima tahun lebih atau sudah poel
- Sapi dan kerbau sudah berumur dua tahun lebih atau sudah ganti gigi.
· Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim a.s.
· Mendidik jiwa kearah takwa dan mendekatkan diri kepada Allah s.w.t.
· Mengikis sifat tamak dan mewujudkan sifat murah hati mahu berbelanja harta kejalan Allah s.w.t.
· Menghapuskan dosa dan mengharap keredhaan Allah s.w.t.
· Menjalinkan hubungan kasih sayang sesama manusia terutama antara golongan berada dengan golongan yang kurang bernasib baik.
· Akan memperolehi kenderaan atau tunggangan ketika meniti titian al-Sirat al-Mustaqim diakhirat kelak. Sabda Nabi Muhammad s.a.w. yang artinya: "Muliakanlah qurban kamu kerana ia menjadi tunggangan kamu dititian pada hari kiamat."
BACAAN-BACAAN SHALAT ( 2 )
Lanjutan dari posting sebelumnya BACAAN-BACAAN SHALAT ( 1 )
e. Rukuk
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَ بِحَمْدِهِ × 3
Subhaana robbiyal ‘adhiimi wa bihamdih 3x
f. I’tidal
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
رَبَّنَا لَكَ الْحْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ اْلاَرْضِ وَمِلْءُ مَاشِئْتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ
Sami’allohu liman hamidah
Robbanaa lakal hamdu mil-us samaawaati wa mil-ul ardhi wa mil-u maa syi’ta min syai’in ba’du.
g. Sujud
سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلاَعْلَى وَ بِحَمْدِهِ × 3
Subhaana robbiyal a’laa wa bihamdih.3x
h. Duduk Antara Dua Sujud
رَبِّ اغْفِرْلِى وَ ارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَارْفَعْنِى وَارْزُقْنِى وَاهْدِنِى وَعَافِنِى وَاعْفُ عَنِّى
Robbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’fu’annii
i. Tasyahud awal
التَّحِيَاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ . السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ . السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ . اللَّهُمَ صَلِ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .
Attahiyyaatul mubarookatus sholawaatut thoyyibatu lillah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan Nabiyyu warohmatullaahi wa barokaatuh. Assalamu ‘alainaa wa’alaa ‘ibaadillahis shoolihiin. Asyhadu allaa illaaha illaalloh wa asyhadu annaa Muhammadar rosuululloh. Allohuma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad.
j. Tasyahud Akhir
التَّحِيَاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ . السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ . السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ . اللَّهُمَّ صَلِ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ .وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ . كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمِ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمِ . وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ . كَمَا بَرَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمِ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمِ . فِى الْعَا لَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ .
l. Salam
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Assalamu ‘alaikum warohmatulloohi wa barokaatuh.
m. Doa Qunut
اَللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ , وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ , وَتَوَلَّنِى فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ , وَبَارِكْ لِى فِيْمَا اَعْطَيْتَ , وَقِنِى بِرَحْمَتِكَ شَرَّمَا قَضَيْتَ , فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ , وَاِنَّهُ لاَيَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ , وَلاَ يَعِزُ مَنْ عَدَيْتَ , تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ , فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ , اَسْتَغْفِِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ , وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِ نَا مُحَمَّدِ نِ النَّبِىِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
- Alloohummahdinii fiiman hadait
- Wa’aafinii fiiman ‘aafait
- Watawallanii fiiman tawalait
- Wabaariklii fiiman a’ thoit
- waqinii syarra maa qodhoit
- fainnaka taqdlii walaa yuqdloo ‘alaik
- wainnahuu laa yadzillu man waalait
- walaa ya’izzu man ‘aadait
- Tabaarokta robbanaa wata’aalait
- falakal hamdu ‘alaa maa qodloit
- Astaghfiruka wa atuubu ilaik
- washollalloohu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin nabiyyii ummiyyi wa ‘alaa aalihii washohbihii wasallam.
BACAAN-BACAAN SHALAT ( 1 )
a. Niat-niat Shalat Fardhu
1. Shalat Subuh
اُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً ( مَأْمُوْمًا / إِمَامًا ) لِلَّهِ تَعَلَى , اَللهُ اَكْبَرُ
Ushollii fardlosh shubhi rok’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an ( ma’muuman/ imaaman ) lillaahi ta’aalaa , Allohu akbar.
2. Shalat Duhur
اُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُّسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً ( مَأْمُوْمًا / إِمَامًا ) لِلَّهِ تَعَلَى , اَللهُ اَكْبَرُ
Ushollii fardlodh dhuhri arba’a roka’aatim mustaqbilal qiblati adaa-an ( ma’muuman/ imaaman ) lillaahi ta’aalaa , Allohu akbar.
3. Shalat Asyar
اُصَلِّى فَرْضَ الْعَصْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُّسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً ( مَأْمُوْمًا / إِمَامًا ) لِلَّهِ تَعَلَى , اَللهُ اَكْبَرُ
Ushollii fardlol ‘ashri arba’a roka’aatim mustaqbilal qiblati adaa-an ( ma’muuman/ imaaman ) lillaahi ta’aalaa , Allohu akbar.
4. Shalat Maghrib
اُصَلِّى فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُّسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً ( مَأْمُوْمًا / إِمَامًا ) لِلَّهِ تَعَلَى , اَللهُ اَكْبَرُ
Ushollii fardlol maghribi tsalaatsa roka’aatim mustaqbilal qiblati adaa-an ( ma’muuman/ imaaman ) lillaahi ta’aalaa , Allohu akbar.
5. Shalat Isya’
اُصَلِّى فَرْضَ الْعِشَاءِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُّسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً ( مَأْمُوْمًا / إِمَامًا ) لِلَّهِ تَعَلَى , اَللهُ اَكْبَرُ
Ushollii fardlol ‘isya’i arba’a roka’aatim mustaqbilal qiblati adaa-an ( ma’muuman/ imaaman ) lillaahi ta’aalaa , Allohu akbar.
b. Do’a Iftitah
اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا , وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً , اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَاواتِ وَاْلاَرْضَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًا وَّ مَا َنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ . اِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَ مَحْيَايَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ال عَالَمِيْنَ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ .
Allohu akbar kabirou wal hamdulillahi katsiiro, wa subhanallohi bukrotau wa ashiila, Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fathoros samaawaati wal ardlo haniifam muslimau wa maa anaa minal musyrikiin. Innas sholaati wa nusuku wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi robbil ‘aalamiin. Laa syariika lahuu wa bidzaalika umirtu wa anaa minal muslimiin.
c. Surat Al Fatihah
بسم الله الرحمن الرحيم ÷ الحمد لله رب العالمين ÷ الرحمن الرحيم ÷ مالك يوم الدين اياك نعبد و اياك نستعين ÷ اهدنا الصراط المستقيم ÷ صراط الذين انعمت عليهم
غير المغضوب عليهم و لا
الضالين ÷ امين
d. Surat AL Ikhlas ( misal yg dibaca surat al ikhlas )
قل هو الله احد ÷
الله الصمد÷لم يلد ولم يولد.
ولم يكن له كفوااحد
SHALAT
Shalat adalah Ibadah yang dimulai dengan takbiratul ihrom dan diakhiri dengan salam dengan sarat rukun tertentu.
1. Syarat Wajib Shalat
Islam , Berakal sehat, Baligh , Suci dari haid dan nifas , telah sampai dakwah.
2. Syarat Sah Shalat
1. Suci dari hadats kecil dan besar
2. Suci badan pakaian dan tempat
3. Menutup aurat
4. Mengetahui waktu shalat / telah masuk waktu shalat.
5. Menghadap kiblat
3. Rukun Shalat
1. Niat
2. Takbiratul Ihram
3. berdiri bagi yang kuasa
4. membaca surat Al Fatihah
5. Rukuk dengan thuma’ninah
6. I’tidal dengan thuma’ninah
7. Sujud dengan thuma’ninah
8. Duduk diantara sujud dengan thuma’ninah
9. Duduk tasyahud akhir
10. Membaca tasyahud akhir
11. Membaca shalawat Nabi pada tasyahud akhir
12. Membaca salam yang pertama
13. Tertib ( urut-urut )
4. Yang Membatalkan Shalat
1. Meninggalkan salah satu rukun
2. Meninggalkan salah satu sarat
3. berbicara dengan sengaja
4. Banyak bergerak/ bergerak tiga kali berturut-turut
5. makan dan minum
5. Sunah-sunah dalam Shalat
Sunah shalat dibagi 2 yaitu sunah ab’ad dan sunah hai’at
A. Sunah Hai’at adalah amalan yang lebih utama untuk dikerjakan untuk kesempurnaan shalat dan jika lupa tidak dikerjakan , tidak perlu diganti dengan sujud sahwi. Diantara sunah hai’at :
1. Mengangkat kedua tangan waktu takbiratul ihram
2. Meletakkan telapak tangan kanan diatas pergelangan tangan kiri ketika
bersedekap
3. Membaca do’a iftitah
4. Membaca ta’awud
5. Membaca amin setelah membaca fatihah
6. Membaca surat / ayat Al qur’an setelah AL Fatihah
7. Mengeraskan bacaan fatihah dan surat Al qur’an pada rokaat pertama dan kedua pada shalat Maghrib , Isya’ dan Subuh, kecuali makmum
8. Membaca takbir ( Allohu akbar ) setiap pindah rukun
9. Membaca tasbih ketika rukuk dan sujud
10. Membaca sami’ Allahuliman hamidah waktu I’tidal
11. Duduk iftirasy (waktu tahiyyat awal)
12. Duduk Tawaruk (waktu Tahiyyat akhir)
13. Membaca salam yang kedua
14. Memalingkan muka kekanan dan kekiri saat mengucapkan salam
B. Sunah Ab’ad adalah sunah – sunah dalam shalat yang jika lupa tidak dikerjakan harus diganti dengan sujud sahwi ( sujud karena lupa )
Diantara sunah Ab’ad adalah :
1. Membaca tasyahud awal
2. Membaca sholawat pada tasyahud awal
3. Membaca salam atas keluarga Nabi pada tasyahud akhir
4. Membaca do’a Qunut pada sholat Subuh
Langganan:
Postingan (Atom)