TASAWUF


Secara umum ajaram islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah atau jasadiah, dan yang bersifat batiniah. Pada unsur batiniahlah kemudian lahir tasawuf, dan unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian cukup besar dari sumber ajaran islam, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist serta praktek kehidupan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Dalam Al-Qur’an antara lain berbicara tentang kemungkinan manusia dengan Tuhan dapat saling mencintai (mahabbah) yang tercantum dalam firman Allah QS. Al-Maidah ayat 54 yang artinya;
“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya”.
Perintah agar manusia senantiasa bertaubat, membersihkan diri dan memohon ampunan kepada Allah yang tertera dalam QS. Tahrim ayat 8;
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Al-qur’an juga mengingatkan manusia agar dalam hidupnya tidak diperbudak oleh kehidupan dunia dan harta benda.
“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah orang yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”. (QS. Al-Fathir: 5)
“kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan”. (QS. Al-Hadid: 5)
Dan untuk senantiasa bersikap sabar dalam menjalani pendekatan diri kepada Allah SWT. “(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur”. (QS. Ali Imran: 17)
Contoh kehidupan sufi banyak pula ditemukan dalam kehidupan Rasulullah sehari-hari, yang penuh dengan penderitaan dan waktunya dihabiskan hanya untuk beribadah dan berbakti kepada manusia. Sebelum di angkat menjadi Rasul, beliau sering bertakhanus di Gua Hiro untuk memohon petunjuk kepada Allah. Berulang kali beliau melakukan seperti itu dengan perbekalan hanya air putih dan buah kurma, terkadang juga mengenakan pakaian tambalan yang mencerminkan kehidupannya sederhana. Di tempat itulah beliau memisahkan diri dari kaum Quraisy yang sudah dinilai menyimpang ajaran Tuhan.
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah berkata: “ketakutanku kepada Allah melebihi dari orang lain dan ketakutanku kepada-Nya tak ada tolok bandingnya. Kadang kala kulalui tiga puluh hari lamanya dengan tidak mempunyai simpanan makanan di rumah, sehingga Bilal datang membawa sepotong roti yang kami makan bersama.
Ibnu Mas’ud pernah masuk kekamar Rasullah dan pada saat itu Rasulullah sedang berbaring di atas sebuah tikar dari daun kurma yang memberi bekas pada pipinya. Ibnu mas’ud bertanya: “ Wahai Rasulullah apakah tidak baik kucarikan sebuah bantal untukmu?. Rasulullah menjawab: “Tak ada hajatku untuk itu, aku dan dunia laksana seorang musafir yang  sebentar berteduh di kala panas terik di bawah naungan sepohon kayu yang rindang untuk kemudian berangkat lagi untuk meneruskan arah tujuan”.

I.         PENGERTIAN TASAWUF
 Tidak mengherankan kalau kata sufi dan tasawuf dikaitkan dengan kata-kata Arab yang mengandung arti suci. Penulis-penulis banyak mengaitkannya dengan kata:     1. Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. Dan memang, kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat, terutama salat dan puasa.
2. Saf (baris). Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca ayat-ayat al-Qur'an dan berdzikir sebelum waktu salat datang. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan.
3. Ahl al-Suffah, yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin, tinggal di Mesjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah, (pelana) sebagai bantal. Ahl al-Suffah, sungguhpun tak mempunyai apa-apa, berhati baik serta mulia dan tidak mementingkan dunia. Inilah pula sifat-sifat kaum sufi.
4. Sophos (bahasa Yunani yang masuk kedalam filsafat Islam) yang berarti hikmat, dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. Pendapat ini memang banyak yang menolak, karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab, dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf.
5. Suf (kain wol). Dalam sejarah tasawuf, kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf, ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia.
Sedangkan menurut istilah Tasawuf adalah sebuah metode Islami dalam upaya penyucian diri, sebuah jalan untuk meraih derajat ketuhanan tertinggi sebagaimana diteladankan oleh Nabi Muhammad Saw. Para Sufi senantiasa menjaga diri dari keterikatan dan kecintaan terhadap dunia agar tetap merasa dekat dengan Allah Swt. Buah dari kedekatan ahli Tasawuf (sufi) dengan Tuhannya adalah rasa cinta yang mendalam kepada-Nya.
II.       TUJUAN TASAWUF
          .Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan   sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah, pertama, Tuhan bersifat rohani, maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh, bukan jasadnya. Kedua, Tuhan adalah Maha Suci, maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnYA.
III.     LATAR BELAKANG TASAWUF
Berawal dari abad 7 M, di wilayah Arab terdapat sebuah masyarakat yang terpecah-belah, yang selama beberapa abad lamanya telah mengalami perkembangan dalam tradisi yang mapan berupa peperangan, paganisme dan nilai-nilai kesukuan lainnya. Meskipun pada masa itu bangsa Arab telah melakukan aktivitas perniagaan diluar wilayah Arab, namun mereka tidak begitu banyak dipengaruhi oleh budaya lain.
Setelah beberapa lamanya mengalami zaman kehancuran, atau disebut zaman Jahiliyah. Tiba-tiba sebuah “cahaya nubuwat” yang mengagumkan hadir dihadapan mereka. Cahaya ini pertama-tama menyingkap dan menghancurkan sifat kebinatangan dan ketidakadilan dalam masyarakat tersebut. Manusia yang luar biasa, membawa cahaya baru dari pengetahuan ini adalah Nabi Muhammad SAW.
Dalam waktu 23 tahun, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kebenaran abadi yaitu bahwa manusia dilahirkan ke dunia ini demi mempelajari jalannya penciptaan seraya akan kembali pada sumbernya, Maha Pencipta Yang Satu. Beliau berhasil membawa mereka pada jalan yang benar, meskipun dalam meraihnya penuh dengan penderitaan. Mereka dapat menerima ajarannya dan penjelasan tentang ayat-ayat Al-qur’an yang diwahyukan kepadanya. Mereka menyembah Allah dan mengikuti Nabi yang hidup penuh dengan pengetahuan dan kecintaan kepada Allah.
Setelah Nabi wafat , kepemimpinannya di teruskan oleh Khulafaur Rasyidin dan berlanjut pada masa Bani Umayah dan Bani Abbasiyah. Pada masa Bani umayah dan Abasiyah inilah sering terjadi kekacuan politik dan social di satu sisi dan di sisi lain terjadi pula  perpecahan umat islam dalam bidang aqidah  yang menimbulkan banyaknya  faham tauhid seperti qodariyah , jabariyah , syiah , murjiah , ahlussunah waljamaah dll. Dalam sejarahnya dari setiap faham tauhid tersebut saling menyalahkan dan menganggap dirinya yang paling benar bahkan saling kafir mengkafirkan. Akibatnya   banyak orang yang ingin melepaskan diri dari kekacauan-kekacauan yang terjadi dan memilih jalan tasawuf.  
   
IV.     SUMBER AJARAN TASAWUF
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari luar islam yang masuk ke dalam islam yaitu kristen. Ada yang mengatakan tasawuf timbul karena pengaruh ajaran hindu dan pengaruh ajaran budha. Terlepas dari ada atau tidaknya pengaruh dari luar ajaran islam, yang jelas dalam islam sendiri banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang membawa kepada timbulnya tasawuf (mendekatkan diri kepada Alloh ).Sebenarnya dalam setiap agama kehidupan kerohanian pasti ada. Setiap pemeluk akan mengamalkan ajaran agamanya sebagai buah penghayatan terhadap ajaran  agamanya.Oleh karena itu, kesamaan pengamalan tasawuf dalam islam dengan agama-agama lain bukan karena saling meniru. Itu terjadi bisa aja karena ada kesamaan apa yang di amalkan oleh masing-masing pemeluk agama.
V. MAQAMAT
Maqamat (bentuk jamak dari maqam ) mengandung arti tingkatan-tingkatan hidup sufi yang telah dapat dicapai oleh para sufi untuk dekat pada tuhan. Maqam merupakan hasil dari kesungguhan dan perjuangan yang terus menerus Seseorang baru dapat pindah dan naik dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi setelah melalui latihan (riyadhah) dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik dan menyempurnakan syarat-syarat yang harus di penuhi pada maqam yang ada di bawahnya.
Jalan yang harus ditempuh oleh seorang calon sufi ternyata tidak mudah. Karena sulitnya, untuk pindah dari satu maqam ke maqam yang lebih tinggi., diperlukan usaha dan perjuangan yang berat dalam waktu yang tidak singkat.
Jumlah maqam yang harus ditempuh oleh para sufi berbeda-beda, sesuai dengan pengalaman pribadi yang bersangkutan. Abu Nasr Al-Sarraj menyebut tujuh maqam yaitu :
1.        Taubat (Al-taubat)
Para sufi sepakat menempatkan taubat sebagai maqam pertama dalam mendekatkan diri kepada Alloh. Yaitu taubat yang sebenar-benarnya  bukan hanya sebagai penghapus dosa .
2.        Zuhud (Al-Zuhd)
Zuhud artinya meninggalkan dunia dan hidup kematerian , bukan saja dari yang haram tetapi juga yang halal. Ahmad bin Hanbal membagi zuhud menjadi 3 macam :
a.        zuhud awam dengan meninggalkan yang haram
b.        zuhud orang khawas dengan meninggalkan yang halal
c.        zuhud orang arif dengan meninggalkan apa saja yang akan menghalanginya dari Alloh.
3.        Wara ( Al- Wara’)
Menurut Abu Zakaria Al-Anshari , wara’ adalah menjauhkan diri dari syubhat dan dari yang tidak membawa kebaikan dalam kehidupan agama, dan segala yang tidak jadi kepentingannya yaitu segala yang berlebih-lebihan walaupun halal.
Di lihat dari segi jenisnya wara’ terbagi dua :
a.        wara’ lahir adalah tidak menggerakkan anggota badan melainkan kepada yang diridhoi Alloh.
b.        Wara’ batin adalah tidak memasukkan kepada ingatan dan kenangan kecuali hanya Alloh.
4.        Fakr ( Al- Faqr)
Fakr dapat diartikan berhajat kepada sesuatu. Menurut ibnu Qudamah fakir adalah orang yang berhajat kepada sesuatu.karena itu, selain Alloh, adalah fakir karena ia selalu berhajat kepada Alloh dan selalu memerlukan kemurahannya.
5.        Sabar (Al-Shabr)
Abu zakaria Al-Anshari mengatakan sabar merupakan kemampuan seseorang mengendalikan diri terhadap sesuatu yang terjadi baik yang disenangi atau yang dibenci.
6.        Tawakkal (Al-Tawakkal)
Berasal dari kata wakala yang berarti keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada orang lain. Tawakal terdiri dari tiga tingkatan :
a.        bidayah : yakni tawakal pada tingkat hati yang selalu merasa tenteram terhadap apa yang sudah  dijanjikan Alloh.
b.        Mutawassithah yakni tawakal pada tingkat hati yang merasa cukup menyerahkan segala urusan kepada Alloh karena yakin bahwa Alloh mengetahui keadaan dirinya.
c.        Nihayah yakni tawakal pada tingkat terjadi penyerahan diri seseorang pada rida atau merasa lapang menerima segala ketentuan Alloh.
7.        Rida (Al-Ridha’)
Adalah suatu sikap mental yang mesti dimiliki dan dijalani oleh seorang sufi, karena dengan sikap mntal ini, kebersihan, kesempurnaan dan  ketinggian rohani dapat dicapai.
VI.  AHWAL    
                Ahwal bentuk jamak dari kata hal adalah sikap rohaniah (mental ) seorang sufi dalam perjalanan tasawufnya. Perbedaan antara maqam dan ahwal adalah kalau maqam merupakan sikap hidup yang harus diusahakan dengan kesngguhan dan latihan, sedangkan ahwal merupakan anugerah Alloh bagi yang dikehendaki-Nya.    
Macam-macam ahwal :
1.        Khauf (Al-Khawf)
Artinya merasa takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada masa yang akan datang. Maksudnya takut kepada Alloh atau takut terhadap siksa-Nya.
2.  Tawadu (Al-Tawadhu’)
 Artinya merendahkan diri dan berlaku hormat kepada siapa saja. Adapun tawadu yang menjadi sikap mental sufi adalah selalu merendahkan diri baik kepada manusia maupun kepada Alloh.
3.        Takwa (Al-Taqwa)
Artinya terpelihara dari kejahatan, karena adanya keinginan yang kuat untuk meninggalkan kejahatan.
4.        Ikhlas (Al-Ikhlash)
Artinya hilangnya rasa pamrih atas segala sesuatu yang diperbuat. Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak mengharapkan imbalan dari perbuatannya.
5.        Syukur (Al-Syukr)
Artinya pengakuan terhadap nikmat yang telah diberikan Alloh kepadanya dengan kedudukannya. Dalam pandangan tasawuf, nikmat hakiki madalah kebahagiaan di akhirat, karena nikmat akhirat itu kekal sedangkan nikmat dunia sementara saja. Alloh Swt menegaskan dalam surat Ibrahim ayat : 7 : ”Sungguh jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sungguh azab-Ku sangat pedih.”Olleh karena itu sesungguhnya syukur itu merupakan nikmat dari Alloh.Wajiblah seseorang bersyukur kepada-Nya karena syukur itu tidak ada batas akhirnya.

Pengertian, unsur dan wujud kebudayaan


  • Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi, diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
  • Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan,keseluruhan struktur sosial, religius, serta segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
  • Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain.
  • Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi , Kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh kesimpulan :
Kebudayaan akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Unsur Budaya
Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok budaya yang meliputi:
        sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
        organisasi ekonomi
        alat-alat dan lembaga-lembaga 
        organisasi kekuatan (politik)

 Wujud Budaya
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga:
-         Gagasan
-         Aktifitas
-         Artefak
  1. Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh.
  1. Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
  1. Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.

PRINSIP-PRINSIP BELAJAR MENGAJAR


            Didaktik adalah sebagaian dari pedagogik atau ilmu mendidik anak. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa didaktik adalah ilmu mengajar yang memberikan prinsip-prinsip tentang cara-cara menyampaikan bahan pelajaran sehingga dikuasai dan dimilki oleh siswa.
            Prinsip-prinsip yang sering dikemukakan meliputi prinsip apersepsi, peragaan, motivasi, korelasi, dan evaluasi yang teratur.
            Prinsip-prinsip yang utama untuk dihayati dan diterapkan oleh guru dalam pembelajaran diuraikan sebagai berikut:

1.   Prinsip Apersepsi
            Herbart (1841) menyatakan bahwa apersepsi adalah memperoleh tanggapan-tanggapan baru dengan bantuan tanggapan yang telah ada. Apersepsi digunakan dalam mengajar dengan maksud untuk mempermudah memahami ide-ide yang baru dipelajari dengan mangaitkan pada pemahaman ide yang telah dimiliki  siswa. Apersepsi membangkitkan minat dan perhatian untuk sesuatu. Karena itu pelajaran harus selalu dibangun di atas pengetahuan yang telah ada.

2.   Prinsip Peragaan
      Ada pepatah yang menyatakan:
·         Saya dengar, saya lupa
·         Saya lihat, saya tahu
·         Saya kerjakan, saya mengerti
   
      Konsep akan mudah dipahamai jika siswa aktif memanipulasi benda konkrit dan semi konkrit sebagai model representasi dari konsep yang abstrak. Prof. Burner juga mengatakan kepada kita dengan teorema belajarnya yang dikenal dengan:

      a.   Teorema Konstruktif
            Dimana anak lebih mudah belajar mengkonstruksikan ide-ide abstrak ke dalam struktur kognitifnya jika dengan menggunakan peragaaan konkrit (enactiive) dilanjutkan ke tahap semi konkrit (iconic) baru ke tahap abstrak (simbolik).

      b.   Teorema Notasi
            Untuk mengajarkan matematika yang begitu banyak symbol-symbol yang harus dipahami maknanya harus dipahami secara bertahap dari yang paling sederhana sesuai tingkat pemahaman siswa. Peragaan merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif.Para siswa akan lebih tertarik jika peragaan tersebut mampu menggambarkan aktivitas yang sebenarnya.

      c.   Teorema Kekontrasan dan Variasi
            Untuk mengajarkan bentuk segitiga, perlu diberikan contoh yang bukan segitiga, misalnya terbuat dari kertas manila, atau bentuk-bentuk segitiga yang terdapat di lingkungannya. Demikian juga variasi dalam menggambar bangun-bangun segitiga perlu dikembangkan supaya siswa tidak berpandangan sempit terhadap konsep yang dipelajari. Misal, untuk menggambarkan segitiga siku-siku perlu digambarkan dalam berbagai posisi. Dalam proses pembelajaran, guru dapat menerima siswa untuk menjelaskan kekontrasan anatara: siang dan malam, terang dan gelap, lurus dan begkok , dan sebagainya.



      d.   Teorema Konektivitas.
            Untuk mengajarkan sesuatu konsep tertentu perlu diorganisasikan dengan urutan yang tidak begitu saja dapat dibolak-balik karena konsep yang satu diperlukan untuk memahami konsep yang lain.


3.   Prinsip Motivasi
            Salah satu fungsi yang melekat pada diri guru adalah guru sebagai motivator anak didik agar memiliki semangat dan kemauan belajar yang lebih tinggi. Ada dua macam motivasi pada diri siswa, yaitu motivasi yang tumbuh dan kesadaran pribadi untuk melakukan sesuatu yang didorong oleh cita-cita, harapan pribadi yang bersangkutan (motivasi intrinsik), dan ada yang dibangkitkan oleh pegaruh dari luar (motivasi ekstrensik). Tugas guru adalah mendorong siswa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu demi suksesnya tujuan belajar.

      Ada beberapa  tindakan yang baik dalam memotivasi siswa, antara lain:
      a.   Memberi angka.
      b.   Hadiah atau penghargaan.
      c.   Menumbuhkan rasa sukses.
      d.   Kerjasama.
      e.   Membangun suasana yang sejuk dan menyenangkan.
      f.    Membangkitkan  minat siswa.

4.   Prinsip Belajar Aktif.
            Pada hakekatnya, belajar adalah wujud keaktifan siswa walaupun derajatnya tidak sama antara siswa satu dengan yang lain dalam sustu proses belajar mengajar di atas. Menurut Mc. Keachie (1954) siswa belajar secara aktif adalah belajar dengan melibatkan keaktifan mental (intelektual-emosional) walaupun dalam banyak hal diperlukan keaktifan phisik.

5.   Prinsip Kerjasama
            Wujud nyata dalam proses belajar mengajar adalah diharapkan keterlibatan setiap siswa di dalam tugas-tugas klasikal atau kelompok. Tugas guru adalah mengakomodasikan dan memfasilitasi agar kegiatan kelompok dapat berlangsung secara produktif dan dinamis.

6.   Prinsip Mandiri
            Siswa perlu dibiasakan untuk mencapai kepuasan dengan usaha yang keras dari diri siswa sendiri. Pendidikan tidak boleh terlalu memanjakan anak, bantuan yang kita berikan sifatnya hanya berupa kail untuk dapat memancing penyelesaian masalah oleh siswa sendiri. Perlu ditanamkan pada siswa motto “Tidak ada sukses tanpa kerja keras”.

7.   Prinsip Penyesuaian Dengan Individu Siswa.
            Idealnya karena adanya perbedaan setiap idividu siswa maka dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada siswa tentu dengan cara dan kecepatan yang berbeda-beda pula.

8.   Prinsip Korelasi.
            Prinsip korelasi pada intinya adalah mengaitkan pokok bahasan yang diajarkan dengan pokok bahasan lain dalam satu mata pelajaran, dan mengaitkan hubungan atau manfaat suatu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain dan dalam kehidupan sehari-hari serta dalam perkembangan IPTEK. Penerapan prinsip korelasi juga dapat meningkatkan daya tarik minat, dan motivasi siswa terhadap proses pembelajaran.

9.   Prinsip Evaluasi Yang Teratur.
            Kegiatan mengevaluasi keberhasilan proses belajar mengajar yang ditunjukkan oleh kinerja siswa dalam belajar perlu dilakukan secara teratur dan kesinambungan selama dan setelah proses belajar mengajar berlangsung.
      Evaluasi proses dan hasil belajar harus dilaksanakan dengan prinsip-prinsip:
      a.   Menyeluruh
      b.   Berkesinambungan
      c.   Berorientasi pada tujuan
      d.   Obyektif
      e.   Terbuka
      f.    Bermakna
      g.   Mendidik

Kata Kerja Operasional



Klasifikasi Kata Kerja Operasional Sesuai dengan Tingkat Berpikir
Berhubungan dengan mencari keterangan (dealing with retrieval)

1.  Menjelaskan (describe)
2.  Memanggil kembali (recall)
3.  Menyelesaikan / menyempurnakan (complete)
4.  Mendaftarkan (list)
5.  Mendefinisikan (define)
6.  Menghitung (count)
7.  Mengidentifikasi (identify)
8.  Menceritakan (recite)
9.  Menamakan (name)


Memproses (processing):

1.  Mengsintesisikan (synthesize)
2.  Mengelompokkan (group)
3.  Menjelaskan (explain)
4.  Mengorganisasikan (organize)
5.  Meneliti /melakukan eksperimen (experiment)
6.  Membuat analog (make analogies)
7.  Mengurutkan (sequence)
8.  Mengkategorisasikan (categorize)
9.  Menganalisis (analyze)
10.Membandingkan (compare)
11. Mengklasifikasi (classify)
12. Menghubungkan (relate)
13. Membedakan (distinguish)
14. Menyatakan sebab-sebab (state causality)



Menerapkan dan Mengevaluasi

1.  Menerapkan suatu prinsip (applying a principle)
2.  Membuat model (model building)
3.  Mengevaluasi (evaluating)
4.  Merencanakan (planning)
5.  Memperhitungkan / meramalkan kemungkinan (extrapolating)
6.  Meramalkan (predicting)
7.  Menduga / Mengemukan pendapat / mengambil kesimpulan (inferring)
8.  Meramalkan kejadian alam /sesuatu (forecasting)
9.  Menggeneralisasikan (generalizing)
10.Mempertimbangkan /memikirkan kemungkinan-kemungkinan(speculating)
11. Membayangkan /mengkhayalkan (Imagining)
12.Merancang (designing)
13.Menciptakan (creating)
14. Menduga /membuat dugaan/kesimpulan awal (hypothezing)


11.     Perilaku-perilaku Sains

a.  Menjajarkan (align)
b.  Menerapkan (apply)
c.  Melampirkan (attach)
d.  Menyeimbangkan (balance)
e.  Mengkalibrasi (calibrate)
f.   Melaksanakan (conduct)
g.  Menghubungkan (connect)
h.  Mengganti (convert)
i.   Mengurangi (decrease)
j.   Mempertunjukkan/ memperlihatkan (demonstrate)
k.  Membedah (dissect)
l.   Memberi makan (feed)
m. Menumbuhkan (grow)
n.  Menambahkan/meningkatkan (increase)
o.  Memasukkan/menyelipkan (insert)
p.  Menyimpan (keep)
q.  Memanjangkan (lenghthen)
r.  Membatasi (limit)
s.  Memanipulasi (manipulate)
t.  Mengoperasikan (operate)
u.  Menanamkan (plant)
v.  Menyiapkan (prepare)
w. Menghilangkan (remove)
x.  Menempatkan (replace)
y.  Melaporkan (report)
z.  Mengatur ulang (reset)
aa. Mengatur (set)
ab. Menentukan/menetapkan (specify)
ac. Meluruskan (straighten)
ad. Mengukur waktu (time)
ae. Mentransfer (transfer)
af. Membebani/memberati

KAIDAH PENULISAN SOAL PG

  1. Soal harus sesuai dengan indikator
  2. Pengecoh harus berfungsi
  3. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar
  4. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas.
  5. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar.
  6. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.
  7. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi.
  8. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama
  9. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah/benar”.
  10. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis waktunya.
  11. . Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi.
  12. Rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak pasti seperti: sebaiknya, umumnya, kadang-kadang.
  13. Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.
  14. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
  15. Bahasa yang digunakan harus komunikatif,  sehingga pernyataannya mudah dimengerti warga belajar/siswa.
  16. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional.
  17. Pilihan jawaban jangan mengulang kata/frase yang bukan merupakan satu  kesatuan pengertian. Letakkan kata/frase pada pokok soal.

KAIDAH PENULISAN SOAL URAIAN

  1. Soal sesuai dengan indikator
  2. Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan sudah sesuai
  3. Materi yang ditanyakan sesuai dengan tujuan pengukuran
  4. Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas
  5. Menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban uraian
  6. Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal
  7. Ada pedoman penskorannya
  8. Tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca
  9. Rumusan kalimat soal komunikatif
  10. Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baku
  11. Tidak menggunakan kata/ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian
  12. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu
  13. Rumusan soal tidak mengandung kata/ungkapan yang dapat     menyinggung perasaan peserta didik



PENULISAN SOAL

LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN TES
  1. Penentuan tujuan tes,
  2. Penyusunan KISI-KISI tes,
  3. PENULISAN SOAL,
  4. PENELAAHAN SOAL (validasi soal),
  5. Perakitan soal menjadi perangkat tes,
  6. Uji coba soal termasuk ANALISIS-nya,
  7. Penyajian tes kepada peserta didik
  8. Skoring (pemeriksaan jawaban peserta didik)
 Prinsip Penulisan soal
1.      VALID     : Mengujikan Materi/Kompetensi Yang  Tepat ( Measurable)
2.      RELIABEL: Konsisten hasil pengukurannya
3.      FAIR (Tidak merugikan pihak tertentu):
                   a. JUJUR (HONESTY):
- Tingkat kesukaran soal = kemampuan peserta didik
- Tidak menjeb
- Materi yang diujikan sesuai dengan jenis  tes dan bentuk soal yang digunakan
- Menetapkan penskoran yang tepat     
b. SEIMBANG (BALANCE):
- Materi yang diujikan = materi yang  diajarkan
- Waktu untuk mengerjakan soal sesuai
- Mengurutkan soal dari yang mudah – sukar
- Mengurutkan level kognitif dari yang rendah – tingg
c. ORGANISASI:
- Jelas petunjuk dan perintahny
- Layout soal jelas dan mudah dibaca

Soal-soal  tes dapat di susun dalam dua bentuk  yaitu  Uraian   dan  Obyektif

1. Soal Uraian adalah soal yang jawabannya menuntut peserta tes untuk mengorganisasikan gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan gagasan tersebut dalam bentuk tulisan.

2. Obyektif
Tes  bentuk ini dapat  berupa:
         Soal  benar – salah.
         Pilihan  ganda
         Menjodohkan.
         Melengkapi  atau  isian.